Alquran : Sebutir Obat Terbaik dari Allah


"Tuhan... Kuatkan aku.
Lindungiku dari putus asa.
Jika ku harus mati.
Pertemukan aku dengan-Mu."
-Edqoustic

Begitu selalu, menangis dalam dendang lagu yang menyadarkanku, bahwa tak ada yang tahu, sampai kapan? Memang ini bukan perkara mudah diterima oleh yang namanya kalbu. Sesak rasanya dada ketika harus menerima bingkisan kasih sayang dari Allah berupa penyakit. Hanya kekuatan doa serta dukungan para keluarga dan sahabat yang membuatku bertahan hingga saat ini, memasuki enam tahun yang panjang.
Enam tahun lalu yang telah membekap keceriaan seorang Isti Anindya.

***

Menjelang Akhir Ramadhan 1429 H, melangkah sendiri tanpa berkawan.

Putih berpetakan ngilu menepuk-nepuk telapak kaki yang dari tadi beranjak sedikit demi sedikit. Bau menyengat menusuk jantung menarikku untuk segera mengambil hasil itu dan berlalu dari tempat ini. Riuh, siang itu begitu riuh, lalu lalang orang yang tergesa-gesa, bunyi roda yang menari dengan tempo cepat, tundukan lesu mencaci setiap yang menatap pilu. Dadaku semakin tak bisa dikendalikan, detaknya semakin kuat ketika aku perlahan mendorong pintu kaca yang bertulisan dorong atau push yang didalamnya ada hasil itu, hasil yang akan membuka teka-teki hidup selama ini.

Nama lengkap? Ambil darahnya kapan ya Mbak? Bapak yang sedikit jutek dan kurang bersahabat, dia berseragam putih dengan tulisan Laboratorium Patologi dikanan atas bajunya.

Senin Pak, nama saya,

Sebentar, Mbak tes apa ya?

TORCH!

Mbak Isti Anindya? aku mengangguk dan meraih selembar amplop coklat. Aku segera membukanya dan mendapatkan selembar kertas, sedangkan disitu takada keterangan positif atau negatif. Sungguh, aku bingung, apa maksud hasil lab ini?

***

Ruangan dua kali tiga, sangat sempit menurutku. Ada sebuah dipan putih, lemari yang penuh dengan tabung-tabung cairan, meja di depan dipan, di atasnya terdapat banyak kapas dan jarum suntik baru. Seorang dokter muda duduk di antara meja dan dipan. Rambut petak sebahu dengan kacamata tebal yang membuat dia terlihat begitu pintar dan tenang. Aku pikir, dia adalah orang yang ramah. Dia mulai melihat berkasku dan menatap penuh senyum, aku pun membalasnya.

Ini enggak apa-apa kok Mbak, dari hasil lab ini, diketahui  Mbak dulu pernah terinfeksi dan sekarang virusnya tidak aktif lagi.

Virus apa dok?

Cytomegalovirus atau sering disebut CMV, tapi ini tidak masalah Mbak! Bisa jadi Chepalgia Tension mbak ini karena ada tekanan secara psikologis, tidak semata-mata karena virus ini. Mudah stress ya Mbak? Atau ada masalah besar yang sedang dihadapi? aku hanya diam, tersenyum, dan ingin menangis.

Saya memang mudah stres dan dikendalikan situasi sekitar, Dok!

Sekarang, Mbak harus perhatikan kondisi perasaan, jangan sampai ada tekanan psikologis terutama di dalam otak. Tapi, sebenarnya enggak apa-apa kok! Ini saya berikan resep, memang agak mahal. Tapi coba untuk sepuluh hari dulu.

Memangnya, mahalnya berapa Dok?

Sekitar tiga ratus ribu. aku menelan ludah dalam, tiga ratus ribu sepuluh hari, satu bulan bisa satu juta? Allahuakbar!

Langkahku terayun lambat menelusuri lorong-lorong yang mulai sepi. Kumandang adzan jumat mulai bertalu dan bersambut. Beberapa laki-laki tampak tergesa-gesa menuju arah masjid. Aku masih memegang erat hasil lab tadi, sesekali melihat dan mencoba memahami. Aku ragu, benarkah memang tidak apa-apa?

***

Awal Tahun 2010.

Edema Cerebri? Begitu kata dokter radiologinya? Dokter itu memandangi hasil dan meletakkannya pada kotak yang berisi lampu untuk memendarkan cahaya. Agar gambar otakku bisa terlihat jelas.

Iya Dok, dari analisa Dokter bagaimana? Dadaku bergemuruh. Saat wajah dokter itu berkerut, hatiku waspada. Mendengarnya mungkin aku tak kuat.

Ini bukan hanya edema Dek, tapi sudah melebihi. Lihat gambar ini, terjadi penyumbatan di foramen magendie. Untuk bagian ini normalnya, lubang berwarna hitam tidak sebesar itu. Tapi setitik saja. Sepertinya virus menyumbat di situ! Mataku terpanah kenyataan baru. Kutahan lelehan airmata untuk beberapa menit lagi.

Pengobatannya Dok? Serak sudah napasku.

Harus diinfus selama dua minggu setidaknya menggunakan gansiklovir. Jawabnya sambil menulis dikertas.

Biayanya? Tanyaku balik.

Tigapuluh juta rupiah mungkin. Dokter itu dengan santainya menyebutkan nominal sebanyak itu. Seakan aku tak syok dengan semua ini. Seperti beliau telah biasa mengatakannya. Tak hanya mataku kini yang terpanah tapi hatiku juga. Aku hanya diam dan memberi tersenyum serta mengatakan harus aku pikirkan lagi.

Jika tidak segera diobati nanti bisa hidrosephalus. Kalau pada dewasa akan menekan otak, dan ukurannya akan semakin kecil. Bisa menurunkan daya ingat, kecerdasan, bahkan akan sering kejang-kejang. Dokter itu tak seperti dokter Niken yang menguatkanku. Dia laksana seseorang yang menerkamku dengan kenyataan ini. Aku semakin takut dan gelisah.

Perlahan aku kembali membagikan senyum. Setelah ia memberikan mapnya akupun keluar. Sambil menatap lesu sang perawat yang berjaga.

Hati-hati dijalan ya Mbak, tekanan darahnya rendah loh! Ujar sang perawat perhatian. Ya60 per 90 itu memang sangat rendah sekali. Namun itu tak aku pikirkan. Kini hanya seberkas duka yang mendalam. Aku tak kuat menerima kenyataan ini. Mengapa semakin hari kondisiku semakin parah saja?

Allah, sudah lama aku tak menghiraukan-Mu. Karena aku terlena akan prestasi dunia. Tanpa aku mengingatmu untuk selalu bersyukur atas keadaan ini. Kini, semua berbalas. Aku malu hendak bercerita lagi tentang susah ini.

Terseok aku berjalan menuju resepsionis. Airmataku terus berjatuhan. Isakku mulai mengeraskan volumenya. Kepada siapa hendak aku ceritakan semua ini? Kepada bapak atau ibu tentu tak mungkin. Kepada kawan? Siapa yang akan paham? Aku menikmati waktuku di sana sendiri. Suasana yang terasa dua tahun yang lalu saat pertama kali aku menerima vonis ini. Kursi-kursi ruang tunggu seakan memelukku erat. Tak peduli orang melihatku. Sungguh, aku merasakannya sendiri. Tanpa kawan, tanpa ada yang menguatkan.

***

Enam tahun yang sudah aku tuntaskan dengan baik. Masih bertahan dan akan selalu bertahan. Kali ini ada yang menemaniku menangis saat mengingat rasa sakit. Sebuah obat yang sejatinya dekat namun selama ini acuh membuatku jauh. Alquran, ya alquran! Sejak awal desember 2013 lalu aku bergabung bersama sebuah komunitas dasyhat ODOJ (One Day One Juz) yang awalnya aku abaikan. Beberapa kawan mengajak, hatiku selalu menolak. Namun, bayang-bayang kematian menakutiku dan kasih sayang Allah membuatku segan sehingga hati pun siap meminang alquran menjadi kawan sejati.

Rasa sakit sudah tak seberapa lagi terasa. Karena aku membuat lupa pada rasa itu. Lupa karena banyak persiapan menuju akhir kehidupan yang harus segera diperbaiki. Waktu tak ada yang tahu sampai kapan dan aku bersyukur berada menjadi salah satu dari bagian komunitas super ini. Kenapa? Karena telah membantuku menemukan sebaik-baik obat. Obat yang membuatku sedikit lebih kuat, sekalipun saat membacanya airmata bosan bersembunyi, dan meluaplah ia. Mengingat masa yang berat perlahan terlewati dengan banyak nikmat dari Allah. Harusnya aku malu, malu semalu-malunya pada Allah. Kemana aku selama ini? Ketika Allah limpahkan nikmat bertubi-tubi. Apakah aku lupa karena Allah menitipkan ujian sakit yang sejatinya pun adalah sebuah nikmat? Ya Rabb, hamba kembali pada-Mu dengan alquran yang hamba dekap didada. Izinkan ia kudekap sampai nanti, sampai aku benar-benar kembali.

***

Jikalau ada yang bertanya padaku, apa alasanmu menerima pinangan ODOJ? Dan masuk ke dalamnya dengan sepenuh jiwa? Satu jawabanku.
"Kelak jika aku mati, aku akan merasa beruntung karena ada ratusan ribu orang sholeh pembaca alquran yang akan mendoakanku. Dan itu cukup memberi akhirnyang indah."

Balikpapan, Awalan hari di Bulan Juni 2014

Penulis | Isti Anindya

Comments

Popular Posts