DIALOG HATI

DIALOG HATI

Napasku mendadak tercekat, berat rasanya untuk melanjutkan beberapa potong ayat. Bayangan malaikat maut seakan meneror setiap alur pikiran yang melintas tak beraturan. Dalam hati lirih aku berujar, "Sudahkah waktunya?"

Kondisi ini tidak datang sekali dua kali. Cukup menjadi tamparan hangat untuk mengingatkan pada kematian. Pernah suatu kali diperjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta, saat aku hendak menjemput saudara. Sendiri, duduk di kursi paling belakang bus Damri. Lalu aku merenung, merenungi kehidupan yang sudah sampai mana? Sampai apa? Sampai kapan? Lalu tiba-tiba bayangan kematian muncul, tangis tertahan, namun nafas mulai tercekat. Perlahan aku tepuk dada untuk melegakan, namun semakin ditepuk semakin payah rupanya aku bernapas. Sesak sungguh sesak, entah apa istilah medisnya. Saat itu yang terbayang dalam benakku adalah terkapar disini tanpa satupun orang tahu siapa aku? Hanya akan menjadi jenazah yang terlambat dirindukan.
Seketika airmata meleleh dan menghamba padaNya, entah tangisan ketakutan ataupun tangisan memohon kepada Allah. "Ya Rabb, matikanlah aku dengan sebaik-baik keadaan. Jangan sulitkan orang mengurusi jenazahku Ya Rabb."

Pernah pula suatu kali saat hendak tidur, nafas kembali tecekat. Kali ini aku mulai bersiap-siap. Namun saat memandangi wajah bayi dan suamiku, mendadak air mata meleleh lagi, rasa siap itu berubah menjadi debaran yang tak terkendali. Sesaat aku sangat panik, menangis dan memohon pada Allah. Namun, kalau memang sudah waktunya mau bagaimana?

Begitu terus terjadi, sejenak mengingatkanku pada ujung kehidupan. Tapi sejenak pula aku lalai saat diberi kesempatan. Mengapa? Karena aku manusia. Begitulah manusia, terkesan tidak menghargai kesempatan. Berkali-kali Allah berikan ujian, berkali-kali pula kita tersungkur menghamba. Berkali-kali Allah berikan nikmat, berkali-kali pula kita lalai. Sungguh, tidak ada seorangpun yang tahu kapan akhir hidupnya. Lantas mulailah bertanya, mau apa? Mau apa? Mau apa? Hai manusia! Mau kau apakan dunia ini?

***

Napasku mulai kembali pada jalurnya. Perlahan aku benarkan posisi duduk. Al Quran yang masih erat dalam genggaman mulai basah. Basah oleh ratapan yang mungkin sebentar lagi lupa untuk keluar. Aku berdialog dengan qalbu, dialog satu arah.

Mengapa duhai hati, sempat dikau menolak ketika ada saudaramu mengajakmu pada kebaikan? Duhai hati, mengapa saat ada yang menawarkanmu mengaji satu hari satu juz, dikau meragu? Dikau menolak, sekali, dua kali, terus kau menolak. Mengapa?

Lalu waktu melemahkanmu. Karena tontonan mata sudah tak terbendung melihat begitu banyak yang bergabung, maka Allah izinkan dikau duhai hatiku, mengikuti suatu kebaikan ini, mengaji satu hari satu juz. Tentu tidak seperti masuk ke dalam tempat permainan yang menyenangkan. Sebaliknya keputusanmu duhai hati, akan teramat berat terjalani. Saat kau temukan 29 orang sholeh yang berebut dalam kebaikan. Hati-hati yang bersih tanpa keraguan. Tidakkah dikau malu duhai hati? Ketika ada yang berebut menambah juz mereka dalam lelangan? Tidakkah dikau merasa jauh duhai hati? Ketika tinggal kau seorang yang belum selesai?

Oh hatiku, apakah dikau sedang sakit? Apakah dikau terlalu kotor sehingga sulit menyambut kebenaran? Allah telah memberimu obat pembersih hati, agar kelak setiap kebaikan merasukimu sesuka hati.

Dialogku terhenti. Aku bergumam pelan dan menatap mushaf dalam genggaman.
"Inilah obat teruntuk duhai hati yang sakit, teruntuk duhai hati yang bergelimang dosa. Ini adalah obat untuk mengubah diri, untuk memantaskan diri berhadapan dengan Empunya kehidupan. Maka akan kutenggak terus dan terus sampai hatiku kembali pulih dan tak bimbang lagi menerima kebaikan."

Napasku lega, benar-benar lega. Dan kini, potongan ayat dalam satu, dua, tiga, sampai sepuluh lembar siap aku tenggak. Agar hatiku benar-benar sembuh.

Penulis | Isti Anindya

Comments

Popular Posts