HATIKU DIUJI TUHAN

#latepost13Jun2014

Baru saja kemarin saya tersungkur hebat menangis mengucap syukur ke pada Allah atas nikmat yang bertubi-tubi menghamntam diri, kini air mata harus tertahan dengan penuh cengang. Karena 'Fa Inna ma'al usrii yusraan. Inna ma'al usrii yusraan.' Maka setelah kesenangan tentu akan ada kesulitan, sebaliknya setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu terus hidup bergulir. Tidak lantas selalu enak, bahagaia sepanjang hidup. Tentu ada prahara, duka, dan ujian. Sekarang tinggal bagaimana kita menikmati itu semua secara 'sama'. Bila diberi nikmat atau ujian, yang dirasakan harus sama. Apakah bisa? Saya pikir tentu sangat berat. Karena kita manusia. Terkadang perasaan tak bisa dibohongi.

Sabtu kemarin, saat Allah mengizinkan saya dan keluarga berangkat ke Jogja. Dengan beberapa nikmat yang diluar logika. Atas izinNya, sahabat saya menikah berdekatan dengan waktu saya test. Jadi bisa sekalian. Dan ditambah suami ada pelatihan di tanggal yang sama. Nikmatpun bertambah, mengurangi ongkos penginapan karena kami bisa menginap gratis. Adik sayapun kebetulan memiliki jadwal kosong sesuai dengan jadwal test saya dan tenanglah hati ini menitip si kecil padanya. Nikmat yang datang berlimpah pada keluarga kami. Maka hanya airmata dan sesegukan malu yang saya haturkan pada Allah, atas nikmat yang sejatinya tidak pantas saya dapatkan.

Lalu, dengam hati penuh bergembira berangkatlah kami. Sesampai di Bandara Adisucipto Yogyakarta, saya mulai ribet sendiri. Karena memang jam 8 ada kegiatan komunitas yang saya inisiasi. Berniat mengecek kabar mereka dengan persiapannya, sayapum bandel menghidupkan ponsel sebelum pesawat parkir sempurna. Sibuk ini itu dan dikejar waktu. Sayapun memutuskan duluan. Dan suami menyusul membawakan barang. Karena suamipun merasa semua sudah. Beliau tidak double check. Begitupun saya, seakan lupa saking bahagianya. Ambil bagasi, naik taksi. Baru duduk di dalam taksi, saya bertanya perihal ponsel kepada suami. Karena beliau terakhir yang bawa barang-barang. Dengan wajah santai beliau bilang, "Loh kan di Ummi!", sontak saya rogoh isi tas dan Nihil. Untung pak taksi berhati baik dan kami putar balik. Barang-barang diturunkan lagi. Secepat kilat saya berlari menuji 'Baggage Service' dengan mengendong anak 10 kilogram. Menunggu di sana, ternyata tak ada kabar baik. Karena mereka tidak menemukan ponsel saya di cabin. Alhasil keluar dengan lesu dan pasrah. Sempat beberapa kali saya suudzon, tapi suami mengingatkan untuk ikhlas, ikhlas, dan ikhlas.

Saat itu saya berdebat dengan hati ini. Membayangkan harga ponsel, isinya, komunikasi yang terhambat, jika disalahgunakan, dan lainnya. Namun saya tidak menangis, saya hanya menggerutu pada hati sendiri. Mengapa saya lalai dan masih sibuk memikirkan dunia? Hanya sebuah ponsel?! Mengapa saya harus seperti kehilangan iman? Tentulah tak berharga sebuah ponsel jika dibandingkan dengan iman. Dan saya bersama beberapa komunitas kebaikan, salah satunya ODOJ telah memperoleh keimanan yang harusnya bsa membuat saya tenang.
Lalu saya bergumam, "Mungkin, Ummi kurang sedekah ya Bi? Atau ummi terlalu sibuk sama gadget?", Ya Rabb...apakah Engkau hendak mengujiku? Apakah gombalanku di atas sajadah kemarin bukan hanya tangis sesaat? Dan saya kuatkan hati.

Sesampai di hotel, saya langsung meluncur ke Grapari untuk mengambil kartu baru. Sementara saya pakai Tab yang kami bawa untuk anak yang doyan upin ipin. Kami memilih naik becak karena tidak terlalu jauh. Di atas becak, saya menerawang di bawah langit Yogyakarta. Dosa saya begitu banyak, hingga kali ini Allah tegur. Dosa karena hati saya kotor sehingga sulit mengikhlaskan hal kecil ini. Namun, seketika diatas jembatan Kali code, saat saya menatap langit. Allah guyurkan keikhlasan dalam hati. Dan membuat saya 'plong' dan berpikir ke depannya. Tidak menyesali yang sudah hilang. Fokus mengambil kartu dan tetap ikut acara komunitas yang sudah saya janjikan untuk datang.

Lupa. Benar-benar lupa.

Sampai suatu waktu saat saya bersama kawan-kawan komunitas Peduli TORCH, suami saya di telepon seseorang. Orang itu ternyata pegawai maskapai yang menerbangkan kami ke Yogyakarta. Ternyata memang benar, ponsel saya tercecer di cabin pesawat. Mendadak senyum merekah tak percaya. Disaat hati tak lagi berharap, Allah berikan kembali. Memang benar kalau rezeki tak akan kemana. Ya Rabb, apakah Engkau baru saja mengujiku?

Kini saya benar-benar malu sama Allah. Dalam rasa malu inipun saya belum bisa memberi persembahan terbaik pada Allah. Tapi saya percaya kekuatan sedekah. Dan keajaiaban ini menjadi kisah spiritual untuk saya dan keluarga. Bahwa, apa apa yang kita miliki hanyalah titipan. Suatu saat bisa diambil oleh Allah dan bisa pula dikembalikan dengan cara yang indah. Jadi, untuk apa bersusah hati? Toh diri kita inipun milikNya. Itu yang perlu kita selalu asah sebagai makhluk Allah. Seberapa besar keyakinan kita bahwa apa yang ada pada diri kita adalah sepenuhnya milik Allah. Dan kejadian ini telah mengasah saya.

-Isti Anindya-

Comments

Popular Posts