Me'remaja'kan Cinta (Alquran)

Me'remaja'kan Cinta (Alquran)
* Isti Anindya

Cinta itu sangat indah terasa pada awal permulaan ia hadir. Maka itu ada frasa yang berkata "cinta pada pandangan pertama", cinta saat pertama bersua, pertama mengenal, sampai pada menautkan hati satu sama lain. Tapi, cinta pun bisa memudar seiring dengan waktu. Cinta pun mengenal kata 'jenuh' yang kadang menjadi alasan kita berpaling. Bahkan meninggalkan cinta beberapa lama. Darisanalah kita perlu me'remaja'kan cinta. Bagaimana kita mengkondisikan hari ini seperti saat dulu cinta kita masih basah, masih indah, masih penuh dengan bahagia. Pada tulisan ini penulis akan berbagi kiat me'remaja'kan cinta pada alquran.

Dari kecil tentulah kita sudah terbiasa dengan pakaian muslim, sore hari, bersama teman, jalan menuju surau dan masjid. Bangga ketika ditanya, "Pergi mengaji?!" Dan disanalah perkawanan indah untuk dikenang. Bersama belajar membaca kitab Allah. Baru sekadar membaca, belum paham betul maksud dari pembelajaran saat itu. Mungkin bagi sebagian anak, ini menjadi pondasi yang tidak cukup kuat untuk membangun cinta alquran. Sekadar membaca alif ba ta, sesekali salah, rotan pun menyambut. Banyak bacaan yang seadanya, sekenanya. Sehingga ketika dewasa, bangga dengan bacaan yang dulunya di hafal asal-asalan. Lalu, masih adakah waktu untuk meruntuhkan pondasi asal-asalan itu dan membangun dengan yang baru?
Ada caranya, dan sebelum itu angkat dulu rasa malu dan ego kita sebagai manusia.

1. Refleksi, putar kembali kenangan masa lalu. Masa dimana kita jatuh cinta pertama kali pada alquran. Lalu hitung, sudah berapa  lama kita berpaling darinya. Lakukan sebaiknya, setelah shalat malam. Disaat keheningan menjadi milik kita dan Allah.

2. Merapat pada komunitas pecinta quran. Salah satunya yang sedang menjadi trend adalah komunitas 'OneDayOneJuz'. Merapat saja dulu, sambil memantau dan menyiapkan mental untuk bergabung. Karena meremajakan cinta itu tidak mudah.

3. Beli alquran baru. Biasanya sesuatu yang baru membuat kita lebih bersemangat. Mungkin, alquran yang kita miliki terlalu tua dan buluk. Atau tulisannya kurang jelas dibaca. Maka, sisihkan sedikit rezeki dan pilih quran terbaik untuk dibaca.

4. Mulakan dengan membaca satu surah. Perlahan dan nikmati kerinduan membaca alquran. Jika terbata-bata karena sudah tidak lama membaca, tak usah berkecil hati. Buang rasa malu dan datangi kawan atau yang ahli dalam ilmu alquran. Perlahan mulai belajar lagi. Sudah berumur, tapi harus mengulang membaca dari iqro'? Jadikan itu kebanggan dan jangan berkecil hati. Lebih baik dimulai sekadang daripada tidak sama sekali.

5. Tingkatkan 'merapat' pada komunitas pecinta quran menjadi 'merekat'. Berpikirlah untuk mulai mencoba bergabung. Tidak mudah, itu pasti. Akan ada pergolakan jiwa luarbiasa. Akan ada penolakan dalam hati kecil kita. Tapi, jika dari awal kita memiliki tekad untuk lebih baik, insyaAllah akan dihadiahi hidayah yang indah.

6. Istiqomah. Inilah yang paling sulit. Ketika cinta sudah ditangan. Kerinduan sudah terbayar lunas, terkadang hati merasa puas dan kembali lengah. Padahal ujian tentu akan semakin berat. Semakin kuat keimanan seseorang maka akan semakin keras pula ujiannya. Maka itu sebelum ujian menghantam, yakinkan pada diri kita bahwa semua yang diuji pada akhirnya akan lulus. Dan mintalah proses kelulusan yang indah pada Allah.

Jabaran terkait kiat me'remaja'kan cinta diatas tentu tidak mudah untuk dijalani begitu saja. Karena kerak dihati yang terlalu keras, harus sering dibersihkan, 'perlahan yang dipenuhi kesabaran'. Hadapkan wajah kita ke cermin, lalu tanyakan,
"Apa tujuan hidupmu?"
"Apa nikmat yang sudah kamu terima?"
"Apa penghambaan yang sudah kamu tunjukkan pada Allah, Sang pemberi nikmat?"

Percaya adanya Tuhan, bukan terletak pada melakukan hak dan kewajiban. Bukan pula pada sekadar melakukan perintah dan menjauhi larangan. Tapi pada sebesar apa kita mempersembahkan diri untuk Allah? Seberapa besar usaha kita menunjukkan rasa terimakasih atas nikmat?

Tanya itu dan jawab dengan hati.

Comments

Popular Posts