SEPOTONG KISAH TENTANG ‘BELAHAN JIWA’



Belahan jiwa, jika sudah ditemukan maka sulit ingin memisahkan diri darinya. Dan perjalanan panjang saya pun berakhir di sini, saat Allah akhirnya rida mempertemukan saya dengannya—Alquran. Kini sudah memasuki khatam ke-5, tepat beberapa bulan lalu ada pergolakan batin hebat yang memporak-porandakan hati saya. Saat putri pertama dan menantu saya mengajak untuk bergabung dalam komunitas One Day One Juz (ODOJ). Hati saya menolak dengan pelbagai macam alasan. Apa nanti saya memiliki waktu untuk membaca sehari satu juz? Apa saya bisa karena bacaan sudah tak sebaik dulu, kini terbata-bata? Hampir sepekan kala itu saya acuhkan saja ajakan sang anak. Lalu mulailah saya merenungi diri.
Kehidupan yang selamanya tak akan mampu saya genggam. Nikmat dunia yang takkan selamanya saya kejar. Ada masa di mana semua harus diakhiri dan saya bersiap menuju hari akhir. Apa yang selama ini telah saya kumpulkan? Lalu saya melihat pada diri di depan cermin. Tidak ada! Atau belum ada!? Apa yang selama ini saya kumpulkan hanyalah kenikmatan dunia Saya terlupa, bahwa mengumpulkan bekal untuk amal di alam akhir kelak. Mungkinkah melalui anak dan menantu saya, Allah menitipkan bekal itu? Terlalu bodoh rasanya jika saya menolak. Maka sepekan berlalu akhirnya saya putuskan bergabung dengan ODOJ.
Berkumpul dengan 29 teman yang tidak saling kenal di grup 1206 membuat saya awalnya canggung. Apalagi bacaan yang terbata-bata dan kesulitan mengatur waktu. Hari pertama saya kholas habis ashar. Meskipun tertatih dan lama tapi ada hal dasyhat yang saya rasakan setelah itu. Rasanya beban dalam kepala meledak dan keluar melalui mata, telinga, hidung, dan mulut. Ringan, benar-benar ringan. Apakah alquran seajaib itu? Lalu senyum pun mulai terkembang dan saya bertekad takkan jauh-jauh dari alquran. Setiap hari akan terus saya dekatkan hati padanya. Hingga suatu saat biarlah maut yang memisahkan kami.
***
Sebulan penuh sudah saya bertahan dalam komunitas ini. Hari pertama saya khatam tepat pada hari lahir saya, hari kamis. Maka berlinang airmata sejadi-jadinya. Seumur hidup baru kali ini saya merasakan khatam alquran. Sensasinya luarbiasa, seperti menemukan cinta yang dulu pernah tenggelam. Meskipun godaan menerpa kiri dan kanan, saya bertekad untuk tetap berjalan. Seperti perkara waktu, terkadang saya harus tergesa-gesa pulang ke rumah jika ada perkara bisnis diluar, karena belum kholas. Pernah pula disela-sela acara bisnis yang banyak orang berbeda agama, saya nekad membaca alquran. Masa bodoh! Tidak ada lagi rasa malu, adanya rasa bangga dalam diri ini dengan identitas seorang muslim. Dulu, saat membaca buku 15 menit saja di atas mobil kepala sudah pusing bukan kepalang, namun sejak berODOJ membaca 1 jam tidak ada rasa pusing sama sekali. Ajaib bukan?
Banyak manfaat dan keajaiban yang saya dapat semenjak bersama ODOJ. Hal yang paling banyak berubah adalah tingkat emosi. Awalnya saya mudah emosi, sejak membaca quran tiap hari, hati saya menjadi gampang dikendalikan. Dalam menanggapi masalah lebih tenang dan pasrah. Begitu pula perihal rezeki, Allah lapangkan meskipun hasilnya tidak sebesar dulu, tapi rasa berkah dari rezeki itu sungguh menjalar hingga ke nadi. Ada beberapa masalah hidup, yang biasanya akan menjadi pikiran untuk saya, namun dengan mengaji membuat semuanya terasa mudah. Suatu kali, saat saya dan kawan-kawan bisnis produk kesehatan New Image mengadakan seminar malam jumat. Hati kami diliputi rasa cemas tidak akan ada yang dating karena jam kerja dan saat itu hujan turun sangat lebat. Dulu, sewaktu saya belum mendekap alquran, hati saya sudah cemas tak karuan, tapi kini? Ajaib memang, hati saya tenang dan berpasrah pada izin Allah. Dan muncul keajaiban lagi, lagi dan lagi. Tiba-tiba dalam derasnya hujan banyak peserta yang hadir. Dan ikut bergabung bersama perusahaan kami. Omset pun naik hingga 10 kali lipat. Ini benar-benar keajaiban! Jika Allah rida akan sesuatu, maka terjadi.
***
Saya bersyukur, di usia 53 tahun ini Allah masih mengizinkan saya menjemput hidayah.  Apa jadinya jika Allah membiarkan saya terlena pada dunia? Meskipun ini usia terlambat, tapi tentu lebih baik daripada tidak sama sekali. Maka kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan. Tergerak pula hati mengajak suami ikut berODOJ. Cukup memakan waktu yang lama untuk mengajak sang suami. Tentu dibantu oleh anak sulung saya untuk terus merayu dan merayu. Karena saya ingin kelak kami berkumpul, rumah ini diisi dengan lantunan ayat cinta Allah. Sudah jenuh kiranya setiap hari mendengar perdebatan antar personal yang tak ada ujung. Setiap hari saya berdoa, semoga hidayah ini rela Allah berikan juga kepada suami saya. Dan karena izin Allah akhirnya setelah menonton tayangan Grand Launching ODOJ di TV One, suami saya tergerak hatinya untuk berganung. Beliau sudah memiliki bekal membaca yang baik, paham tajwid, hanya perlu membiasakan. Beda dengan saya yang masih terus belajar membaca dengan benar, dan tiap hari saya berdoa, semoga Allah luruskan bacaan saya. Tidak sekadar membaca, saya pun mulai membaca artinya dan barulah saya menemukan banyak keajaiban.
Maka kesempatan ini tidak saya sia-siakan lagi. Seperti dalam bisnis, jika suatu produk dirasa baik manfaatnya maka kabarkanlah pada yang lain. Begitu pula dasyhatnya Alquran ini, tentu berkali-kali lipat lebih pantas untuk saya promosikan. Bersamaan dengan saya mempromosikan produk dan dagangan saya, bersamaan dengan itu saya jelaskan tentang ODOJ, apa yang saya rasakan setelah bergabung. Perlahan, satu, dua, bahkan banyak teman ikut menjalankan meskipun tidak bergabung. Karena tidak semua paham teknologi dalam ponsel yang canggih. Tapi bukan itu yang utama. Intinya adalah dekat dengan Alquran. Dekat dengan belahan jiwa yang dulu pernah hilang, dan kini telah kembali.
Rasanya tak bertemu alquran sehari itu, hidup mati rasa. Sehingga setiap waktu berjalan, alquran harus terus tertanam dalam ingatan. Menuntaskan satu juz sehari tidak sulit namum banyak godaan. Namun, mengencangkan tekad itu menjadi kunci dari semua ini. Menjadikan Alquran sebagai ‘Belahan Jiwa’ itu yang saya lakukan. Kelak biarlah maut yang memisahkan kami dan biarlah alquran yang menemani saya menanti hisab. Karena alquran telah mengubah hidup saya.

Penulis | Isti Anindya
Narasumber | Ibu Elly Rasyanti

Comments

Popular Posts