TEKAD, STRATEGI, EKSEKUSI


Ingin masuk surga? Pasti semua akan menjawab dengan wajah merona, "Ingiiin!" tanpa berpikir bagaimana caranya, yang terpenting 'ingin' dulu. Karena dari keinginan akan muncul tekad, strategi, dan eksekusi. Parahnya jika ada yang memiliki pola pikir, "Ah, saya mau jadi orang biasa saja, ke surga Alhamdulillah, ke neraka ya mau gimana lagi?" Karena dari pernyataan itu tentu susah untuk membangun tekad. Karena tekad atau 'azzam' itu butuh modal yang tidak sedikit. Penulis sebut modal itu adalah "nekat'. Modal yang tidak semua orang bisa memiliki, sekalipun menabung lama. Modal nekat bisa disetarakan dengan hidayah yang mendadak Allah turunkan. Jika tak bersegera ditangkap, maka akan berlalu begitu saja. Maka berharap hidayah datang lagi, itu pekerjaan orang-orang pemalas. Seperti menunggu kereta api, orang yang ingin sampai di tujuan awal waktu, maka mereka akan berupaya tidak tertinggal. Caranya tentu menyiapkan tekad bangun lebih awal, strategi dalam memilih stasiun dan tempat menunggu gerbong, serta eksekusi dengan menyiapkan tenaga untuk berebut dengan penumpang yang lain. Begitu pula untuk meraih surga Allah. Dalam tulisan ini penulis akan membahas salah satu cara menuju surga, yaitu mendekatkan diri pada alquran, petunjuk kehidupan.

Masih banyak manusia yang menganggap membaca alquran itu ibarat makan pisang goreng dan minum teh di sore hari, dilakukan enak, tidak dilakukan tidak masalah. Masih terpusat pada ibadah besar yang tampak seperti shalat dan puasa. Karena memang tidak ada perintah yang populer bahwa umat islam wajib membaca alquran sekian lembar atau sekian juz dalam sehari. Hanya ada sunnah Rasul yang bagi sebagian orang itu penting tapi bagi sebagian lagi biasa saja. Mari sejenak kita menganalogikan alquran sebagai manual book kehidupan. Seperti seorang mahasiswa yang belajar berpedoman pada diktat yang sering dibahasakan "kitab wajib" karena jika membaca dan mempelajari isi diktat tersebut maka dijamin mendapatkan nilai sempurna. Atau bisa dianalogikan seperti seorang juru masak yang memiliki "kitab rahasia" berisi resep yang membuat hasil masakan luarbiasa. Banyak aktivitas dalam kehidupan kita yang digantungkan pada buku petunjuk. Buku yang berisikan cara atau langkah untuk kita mencapai sesuatu. Lantas apakah kita tidak pernah bertanya? Hidup ini manual booknya apa? Bagaimana cara kita mencapai akhir kehidupan yang baik? Tentu secara bahasa kita lancar menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan "alquran" namun jika menjawab dengan makna? Belum tentu.

Banyak muslim yang merasa belum membutuhkan alquran karena memang masih menikmati hidup. Tanpa berpikir bahwa setelah hidup pasti ada yang namanya mati. Mungkin ada yang menyadari penuh dan membutuhkan alquran tapi merasa begitu banyak hambatan. Karena pada dasarnya berbuat kebaikan itu tidak mudah. Kembali pada tiga hal yaitu Tekad, Strategi, dan Eksekusi. Darisana kita tentu mampu mengukur pada yang mana mendapat kendala? Jika pada hal tekad, kita butuh bertanya pada diri sendiri di depan cermin, "Siapa saya? Siapa yang menciptakan saya? Apa tujuan hidup saya?" Jika pada hal strategi, kita butuh mencari solusi dan formulasi bagaimana mempertahankan tekad. Dan pada tahap ini kita butuh modal nekat. Berani memilih dan segera memutuskan, tidak mengandalkan pikiran dan hati yang mudah digoyah setan. Jika dua hal tadi sudah mampu kita hadapi, maka dalam hal eksekusi butuh adanya kesungguhan dan keteguhan hati. Karena semakin baik jalan kehidupan seseorang maka akan semakin berat jenis rintangannya.

Berawal dari tekad yang kuat dan berlandasan ilmu lalu tepat dalam memilih strategi, in sya Allah hidayah akan lekat dalam dekapan kita. Sudah banyak komunitas yang tujuannya mengarah pada kebaikan, kita tinggal memilih, mau atau tidak? Berani sekarang atau nanti-nanti? Itu semua kembali pada tekad hati. Kembali pada tingkat rasa malu pada Allah. Komunitas One Day One Juz atau populer dengan ODOJ dapat menjadi salah satu strategi dari salah satu jalan menuju surga melalui pintu ahlul quran. Jangan pernah berkata, "Ah, saya nggak mungkin seperti kamu, saya terlalu jauh untuk bisa menjadi seperti kamu, biarlah saya begini saja." Karena itu pertanda surga akan menjauh. Ibaratkan naik pesawat, jangan sampai kita sebatas membayangkan akan terbang, tanpa mau berpikir nanti mau naik maskapai apa? Lalu harganya berapa? Lalu kapan saya akan membeli? Karena orang yang ingin hidup biasa-biasa saja tanpa ada tekad untuk lebih baik, sama seperti pujangga yang hanya membayangkan karyanya dalam ingatan tanpa pernah mau menuliskan.

Jadi, siapkah anda nekat dalam bertekad? Atau anda masih mau begitu-begitu saja? Itu pilihan, dan sebaik-baik pilihan adalah pilihan menuju kebaikan.

Penulis | Isti Anindya

Comments

Popular Posts