Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk : Kisah Cinta Terhalang Adat

Resensi Film

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk : Kisah Cinta Terhalang Adat

Oleh : Isti Anindya

Berat memang memvisualisakan sebuah karya tulis menjadi karya sinema. Namun Sunil Soraya dan kawan kawan sangat berhasil menyajikan karya yang nyaris mirip dengan manuskrip fenomenal karya Buya Hamka. 
Jika banyak orang yang memprotes masalah pakaian tokoh Hayati yang dianggap kurang pantas. Bersama sama bisa kita tengok kembali Novel karya Guru Besar HAMKA. Memang seperti itulah penggambarannya. Tidak ada yang direkayasa untuk kepentingan bisnis. Adapun adegan adegan ciuman, memanglah ada di dalam buku. Karena memang novel ini adalah sebuah roman. Roman yang bercerita tentang cinta yang dirumitkan oleh adat.
Zainuddin yang tak bersuku, ayahnya menikahi gadis berketurunan bugis. Sehingga terbuanglah ia dari suku Minang. Karena silsilah terputus pada dirinya. Nasib malang pula, di Makkasar Zainuddin tak pula diakui sebagai orang Bugis. Jejaka yang tak bersuku itupun memutuskan merantau ke Dusun Batipuh, hendak melihat tanah kelahiran Ayahanda dan menuntut ilmu agama. Penggambaran setting zaman dahulu cukup cerdik dengan mengubah tone warna pada visualisasi. Dan diperkuat dengan properti tahun 1930-an, cukup ditail. Disanalah Zainuddin bertemu Hayati, si gadis yang kelak di puja pujanya. Karena disana Zainuddin tak berkawan, dikucilkan karena hanya anak pisang. Bukan siapa siapa. Dalam hal ini penggambaran tentang adat minangnya begitu tajam. Jelas dengan dialeg ya asli, tidak dibuat buat. Pemeran utamanyapun menguasai dialeg dan bahasa satra dengan baik. Skenarionya sebahagian besar diambil dari dialog di Novel. Bukan dikarang karang, tapi di jeplak. Maka dari itu saat menonton tidaklah berkurang nilai kesustraannya.

Dalam hal ini, masyarakat Minang benar benar tersentil dengan adanya aturan adat yang bagi sebagian orang umum itu konyol. Bahwa perempuan minang hendaklah menikah dengan lelaki yang bersuku. Karena jika tidak, "Kama beko anak kau ka babako?" Begiu dialog sang mamak saat memarahi Hayati yang menyatakan bahwa ia cinta pada Zainuddin, lelaki tak bersuku.
Ada aturan adat yang diputuskan bersama, berunding, namun terkesan membawa kepentingan masing masing. Yang tua, yang berada, yang berkuasa. Akhirnya sang terdakwa mengalah pada keadaan. Hayatipun disunting lelaki asli minang nan kaya raya bernama Azis, namun buruk akhlaknya. Karena ia penjudi dan terkontaminasi budaya belanda. Menikah dengan Azis, Hayati mengubah penampilan menjadi gadis kota. Dalam pengabdiannya pada suami itu, Buya Hamka hendak menyampaikan pesan. Begitulah hakikatnya seorang istri. Apapun yang terjadi, tetap suami di nomor satukan. Sekalipun hati tak karuan. Bila sudah menikah makah hati sepenuhnya untuk suami. Tak ada cinta yang lama, berusaha mencintai si suami dan mengabdi.
Sekali lagi, penggambaran khas adat Minang jelas dan tegas, saat sang istri benar benar harus tunduk pada suami, tak boleh sedikitpun salah. Begitulah di Minang, lelaki bak dewa.

Bersamaan dengan itu Zainuddinpun melarat hatinya sampai tersakit sakit. Disaat adegan ini akting Herjunot Ali dapat diacungkan jempol. Dialog yang ia lontarkan asli dari novelnya. Mimik wajahnya sungguh menyayat hati.
Setelah bersusah payah bangkit dari jurang kematian, Zainuddin pun bangkit dan dikuatkan oleh Muluk, pemeran pembantu yang sangat kuat karakternya. Menjadi pengiring cerita. Dan mereka memutuskan hijarah ke batavia. Disanalah titik balik dan klimaks dari cerita ini. Saat Zainuddin bangkit, bangkit yang sebenar benar bangkit. Menjadi penulis besar dan berjaya. Dan pindah ke Surabaya.
Disanalah semua terawali kembali, saat Hayatipun pindah bersama suaminya ke Surabaya. Saat iapun membaca karya karya penulis berinisial Z. Dan Zainuddin mengubah nama menjadi shabir. Sampai pada pertemuan mereka saat acara kelub sumatera. Disinilah kiranya visualisasunya kurang masuk akal. Pada masa itu begitu mewah kiranya penggambarannya.

Saat bertemu dengan kekasih lamanya, Hayati merasa tak tentu. Disaat itu pula azis suaminya berusaha mengikat persahabatan dengan maksud meminjam uang. Karena mereka mulai melarat. Sampai akhirnya menumpang di rumah zainuddin.

Pada bagian ini Buya Hamka hendak menyiratkan, sekalipun mereka satu atap, dan sekalipun masih ada cinta. tapi mereka mampu menjaga pergaulan yang jauh dari zina. Bahkan Azis menitipkan Hayati pada Zainuddin dengan alasan ia hendak mencari kerja. Selama sebulan bersama sama dalam satu rumah, mereka mampu menjaga diri. Hayati bersikap seperti perempuan yang bersuami. Begitupun Zainuddin yang teguh pendirian. Sampai pada Aziz bunuh diri dan menceraikan Hayati dan menyerahkan pada Zainuddin.

Dalam adegan ini benar benar tangguh dan luarbiasa, saat Zainuddin memilih memulangkan hayati saat Hayati menyerahkan sepenuhnya dirinya pada lelaki yang cintanya sudah kembali. Namun Zainuddin teguh berbalut dendam mengatakan "Pantang memakan yang bekas". Rupanya Zainuddin menjadi begitu keras hati dan memilih memulangkan hayati ke tanah minang.

Pulang dengan Kapal termasyhur Van Der wijk. Zainuddin tak mengantar, hanya Muluk yang membersamai Hayati. Berat awalnya hati hayati hendak melangkah. Rasanya ada firasat hendak tenggelan di lautan. Dan betul saja. Saat Zainuddin mengutuki perangainya yang memulangkan Hayati, disaat itupula kapal karam dan tenggalam. Bertemulah sepasang kekasih ini di Tuban, dalam keadaan hayati yang sekarat. Adegan di rumah sakit ini yang membuat penonton haru biru. Saat dialognya benar benar hidup. Dan itu persis dengan isi novelnya. Titik yang membuat penonton menangis adalah saat Zainuddin membacakan dua kalimat suci sebanyak 3 kali ditelinga Hayati. Dan saat hayati pergi, angle shoot yang dipilih dan sound yang diputarkan menguatkan hasrat menangis haru. Sampai hendak berdiri memberi tepuk tangan. Karena pada bagian ini sungguh dramatis.

Pada endingnya film ini, Zainuddin menulis lagi dan bangkit lagi. Namun pada kisah di Novel, Zainuddin setelah Hayati pergi ia mengalami pesakitan sampai akhirnya meninggal dan dikubur di sebelah Pusara Hayati. Ending yang digubah oleh penulis skenario, mungkin bermaksud hendak memberi pesan untuk tetap semangat. Ketika kita jatuh, maka segera bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Seperti itu mereka menggambarkan tokoh Zainuddin.

Pemilihan pemain cukup cerdas, Pevita yang awalnya di 'underestimate' banyak orang, saya pikir dia sukses memainkan peran Hayati. Wajahnyapun terkesan Minang ketika tanpa make up dengan baju kurung dan selendang. Begitu pula Herjunot Ali yang memainkan dialognya dengan dialeg yang sempurna. Saya pikir mereka punya peluang mendapat piala penghargaan. Saya berharap film ini menjadi film terbaik. Dan memang memakan banyak biaya. Menurut saya ini film pertama (transformasi buku ke film) yang sukses. Karena saya penikmat karya Sastrawan legendaris Buya Hamka, dan penikmat film saya ajungkan dua jempol. Direkomendasikan untuk penikmat film drama romantis, penikmat karya sastra lama. Bagi penikmat film action dengan tempo durasi cepat mungkin bagi anda ini akan membosankan karena 2 jam 45 menit.

Sungguh saya tidak kecewa menontonnya. Bahkan sampai saat ini masih muncul kekaguman saya dan keinginan nonton lagi. Bukan karena filmnya, tapi karena ini adalah cerita dari karya fenomenal Buya Hamka yang saya kagumi sejak duduk di menengah pertama. Sejak novel ini menjadi pelajaran bagi saya. Sampai saat ini Novel buluk itu ada. Dan berulang ulang saya baca.

Selamat Nonton!

Comments

Popular Posts