REVIEW FILM HUJAN BULAN JUNI : "ROMANSA SEDERHANA 'SARWONO DAN PINGKAN' YANG TENGGELAM DALAM LAUTAN PUISI SAPARDI"







#REVIEWFILM
#ROMANTICMOVIE
#HUJANBULANJUNI

"ROMANSA SEDERHANA 'SARWONO DAN PINGKAN' YANG TENGGELAM DALAM LAUTAN PUISI SAPARDI"

Oleh Isti Anindya

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"
--- bagian ini--ya! Bagian ini yang membuat saya ingin menjerit di dalam teater, sebagai bentuk pujian atas suksesnya suara Sarwono (Adipati Dolken) membahasakan puisi indah ini untuk mengisi narasi latar kepergian Pingkan (Velove Vexia) ke Jepang. Sungguh manis, sederhana, dan menyentuh. Pastinya Novel ini berhasil mutlak di sulap oleh Hestu Saputra menjadi film pertama yang diangkat dari sebuah puisi yang menjadi film yang sangat berkelas. Bisa jadi review ini akan sangat subjektif, karena saya adalah pecinta puisi Sapardi Djoko Damono.


Mewujudkan romansa karya sastra yang pernah ditulis oleh seorang sastrawan legendaris menjadi sebuah film yang berkesan, bagi saya adalah PR yang sangat sulit. Tim produksi film HUJAN BULAN JUNI ini, saya rasa telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk nama besar pengarangnya. Namun, mereka berhasil! Jika boleh saya katakan, ini adalah keberhasilan yang mutlak. Saya menikmati sensasi yang berbeda dari Romansa Sarwono dan Pingkan ketika membaca novelnya dan menonton filmnya. Bagi saya, film ini melengkapi imajinasi pembaca, pelengkap yang begitu manis dan romantis. Selamat untuk Tim yang telah berhasil membuat nama Sapardi sebagai penyair kelas dunia semakin membekas di hati siapapun yang nanti akan menonton film ini!
Sosok Sarwono dan Pingkan yang diceritakan di dalam Novel adalah sosok sederhana dosen muda UI yang memiliki kisah romansa yang berbeda dengan romansa biasa. Sederhana, namun begitu indah untuk disaksikan keberadaanya. Pingkan yang cantik dan modis, mencintai Sarwono yang lecek dan jadul. Tampak dimata tidaklah serasi, apalagi dalam cerita ini muncul sosok Benny (Baim Wong) dan Katsuo si pemuda jepang yang manis. Tentulah Pingkan secara kasat mata cocok jika bersanding dengan salah seorang dari mereka, bukan dengan Sarwono! Namun, cinta mereka terlalu absurd. Alasan Pingkan mencintai Sarwono saya pikir tidak ada, selain ia suka jika Sarwono menuliskannya puisi-puisi indah, yang dalam satu scene Pingkan katakan, bahwa ia pun sering tak memahami apa yang ditulis Sarwono. Film ini bercerita tentang keberagaman yang bisa melebur karena cinta.


Apa itu Cinta?
--tanya Pingkan lewat sambungan panggilan bergambar pada Sarwono.
Jawabannya?
Dijawab Sarwono lewat panggilan telepon ketika Pingkan bersama Katsuo, dan jawaban itu adalah Jawaban yang begitu indah. Pastikan pada scene ini anda yang akan menonton merekam baik-baik jawaban Sarwono kepada Pingkan. Karena dibagian ini penonton benar benar bisa menangkap atmosfer romansa mereka.


Pingkan adalah gadis Jawa-Manado, ibunya Jawa dan ayahnya Manado, dia seorang nasrani. Sedangkan Sarwono adalah bujang asli solo, jawa tulen yang pastinya seorang Muslim. Mengangkat kisah cinta beda agama, tentu sudah terlalu biasa dalam sebuah film. Namun, yang berbeda pada kisah di film ini, sutradara mengemas "toleransi" begitu tersirat dari setiap adegan-adegan yang memaknai toleransi itu sendiri. Seperti makna yang kita dapat sejak duduk dibangku sekolah dasar dulu. Pingkan yang menemani Sarwono shalat (di sebuah bukit berlatar pantai, di waktu magrib), selesai shalat Sarwono mengeluarkan celetukan yang membuat seisi bioskop tertawa. Celetukan yang sederhana, namun dibawakan Adipati dengan baik, dan direspon Velove dan Baim Wong yang ada dalam scene itu dengan sangat baik pula. Wajar, jika scene ini membuat penonton tertawa renyah tanpa dipaksa. Adapula adegan saat Sarwono shalat di Masjid, dan Pingkan menunggu di dalam. Adegan Sarwono shalat dipinggir kebun jagung. Dan adegan mereka makan di warung makan milik muslim ketika di Manado untuk menghargai Sarwono dan memastikan makan yang dimakannya halal. Dan itu ditunjukkan sutradara dengan jelas, seperti beberapa adegan, yang tampak Sarwono diberi makan ikan. Atau ia yang sekadar makan puding dan jajanan khas Manado, ketika singgah ke rumah keluarga Pingkan di Manado yang mayoritas nasrani.


Ada satu scene, ketika Benny bertanya pada Pingkan, kurang lebih.
"Jika kamu menikah dengan Sarwono, lalu ia memintamu memakai Jilbab?"
Pingkan menjawab :
"Jika aku pakai jilbab, apa itu salah?"
lalu pingkan tertawa renyah dan menatap Sarwono yang terlelap dibangku belakang.
Adegan yang menyiratkan, Pingkan (sepertinya) berkenan berpindah mendekat kepada agama Sarwono. Tidak perlu dengan penegasan yang keras, cukup dengan dialog sederhana yang memiliki seribu maksud. Berkesan! Sangat berkesan bagi saya.


Selain adegan romansa, film ini juga diselipkan adegan-adegan lucu yang sangat alami, dan membuat beberapakali seisi teater tertawa. Terutama saat melihat Sosok Tumbelaka yang dimainkan Surya Saputra, dan itu semakin menambah warna film ini. Saya pikir dalam film ini, Sutradara sangat memikirkan bagaimana teknik membuat penonton tidak merasa ngantuk dan bosan, atau sekadar keluar sebentar untuk buang air kecil (karena saat menonton film ini, muncul rasa sayang melewatkan barang sedetik).


Sebagai penonton, saya merasa sangat larut dalam Romansa Sarwono dan Pingkan, sangat larut sehingga saya tak sadar bahwa cukup lama duduk menghabiskan waktu bersama film ini. Saya pikir, film yang isinya puisi itu akan membosankan. Tapi tidak untuk film ini! Setiap narasi latar talentnya disampaikan dengan cara yang indah, sehingga maksudnya begitu melekat dihati. Ditambah dengan munculnya tulisan berisi puisi itu yang diedit dengan rapi dan membuat penonton ikut membaca dan menghayatinya. Sinematografi dalam film ini? Tidak usah diragukan lagi produksi film Starvision seperti apa, ditail dan sangat romantis. Gambar yang mereka suguhkan, benar-benar mendukung penonton untuk merasakan cinta dua sejoli Sarwono dan Pingkan yang menurut saya sebentar lagi akan melegenda, seperti sejoli abad milenial lainnya, 'Cinta dan Rangga'.
Dan, jika ini adalah pujian yang tak berlebihan, saya ingin mengatakan, romansa mereka dalam film ini digambarkan jauh lebih baik dari romansa Cinta dan Rangga.


Jika anda mencintai puisi, terutama tergila-tergila pada syair yang ditulis guru besar UI, Sapardi Djoko Damono, saya haruskan anda untuk turut menonton 2 November nanti serentak di Bioskop Indonesia. Jika anda kemarin merasa terhanyut dengan romansa Cinta dan Rangga, maka sudah saatnya anda 'move on' melihat kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Biarlah cukup anda yang tahu, jika setelah menonton film ini, anda nantinya akan berpaling!

Kita akan menikmati film ini lebih utuh lagi, ketika penulis skenario memberikan kejutan di akhir film ini, yang mana telah berhasil memberikan ending yang benar-benar "mengejutkan", karena di akhir Novel HUJAN BULAN JUNI, Sapardi tidak menyelesaikan ceritanya, dan di film ini cerita itu diselesaikan dengan baik. Happy or Sad Ending? Silahkan dilihat nanti sendiri ya!
Kejutan lainnya adalah hadirnya Sapardi Djoko Damono dan Jajang C Noer sebagai orangtua Sarwono. Meskipun kemunculan beliau hanya satu-dua scene, cukup dapat menarik riuh tepuk tangan, ketika sang sastrawan legendaris muncul dalam sebuah frame yang bercerita tentang kisah yang ia ciptakan sendiri.


Selamat menunggu filmnya di Bioskop ya gaeees! Siapkan hati dan pikiran kalian untuk "terbawa perasaan" beberapa pekan kedepan setelah menonton! Jujur, setelah menonton ini, entah mengapa saya ingat pada Romansa Sederhana, Mia dan Sebastian.
Semoga perasaan ini tidak berlebihan.


Salam,

Isti Anindya
Bukan pengamat film,
hanya seseorang penikmat karya sastra,
dan yang mengidolakan Sapardi Djoko Damono

*)Untuk Hujan Bulan Juni (8.5/10)





Hujan di bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
- Sapardi Djoko Damono




Trailer HUJAN BULAN JUNI
https://youtu.be/7tgG8A_lejM















Comments

Popular Posts